This book includes a plain text version that is designed for high accessibility. To use this version please follow this link.
Lampiran 1: Kategori hutan dan wewenang pengelolaan


Konsep “hutan” memiliki beberapa arti dan definisi, dan ada kebingungan yang cukup besar di mana ekologi, kelembagaan dan kepemilikan sah berinteraksi pada skala nasional, ditambah dengan kebingungan lainnya, yaitu hutan dalam definisi internasional pada konteks kebijakan iklim yang kurang jelas operasionalnya (van Noordwijk dan Minang 2009). Perspektif ekologis pada hutan dipahami sebagai ‘vegetasi berkayu’ dan jasa ekosistem yang disediakan, tidak sesuai dengan perspektif kelembagaan yang mengacu pada ‘kawasan hutan’, dan keduanya berlaku untuk berbagai perspektif kepemilikan yang sah. Sementara definisi hutan internasional merujuk ke areal minimum, minimal(potensial) tutupan kanopi dan minimum (potensial) tinggi pohon serta tidak mengecualikan hutan tanaman atau kumpulan pohon tanaman dari konsep hutan. Undang-undang kehutanan Indonesia tahun 1999, mengacu pada pengertian hutan terutama sebagai fungsi penyedia. Hutan pada dasarnya harus dipahami sebagai penatagunaan lahan (“Kawasan Hutan”) dibedakan dalam UU Kehutanan 1999, dari kepemilikan lahan. Hanya sebagian kecil (kurang dari 20%) ‘Kawasan Hutan’ telah memenuhi persyaratan dan tidak bertentangan dengan hukum. Areal hutan alam yang memiliki simpanan karbon, populasi orangutan dan lahan gambut dalam seperti yang masih tersisa di Tripa, berada di luar ‘Kawasan Hutan’, sebagaimana hak konsesi untuk konversi ke perkebunan kelapa sawit telah diberikan dan lahan ini termasuk dalam kategori “Areal Penggunaan Lain.” Antara 1990 dan 2005, emisi CO2


dari penurunan vegetasi berkayu di luar


kawasan hutan sudah menyamai luas di dalam kawasan hutan, dan lahan di luar kawasan bisa jadi akan bertahan pada tingkat emisi yang tinggi yang terkait dengan keberadaan hutan di Indonesia secara keseluruhan selama hampir 7 tahun sebelum semuanya habis (Ekadinata et al. 2010).


Dalam kawasan hutan, ada empat kategori berdasarkan fungsi: 1. Kawasan Konservasi, atau “Kawasan Lindung”, yang secara


ketat


dilindungi. Ini termasuk Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Buru, dan Taman Hutan Raya. Taman Hutan Raya dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi atau Dinas Kehutanan Kabupaten, sementara yang lainnya oleh Pemerintah (dalam hal


ini Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan).


2. Hutan Lindung masih dapat dimanfaatkan berupa pengambilan secara terbatas hasil hutan non-kayu seperti madu, buah-buahan, kacang- kacangan. Kawasan ini dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi atau Dinas Kehutanan Kabupaten.


3. Hutan Produksi adalah hutan yang dialokasikan terutama untuk produksi kayu. Ada dua kategori hutan produksi: Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi Terbatas dengan pedoman yang lebih ketat. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dapat diterbitkan untuk Hutan Produksi oleh Pemerintah, berdasarkan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten. Vegetasi alami pada ‘hutan terdegradasi’ dapat diberi izin untuk konversi ke hutan tanaman dalam kategori ini.


4. Hutan Konversi adalah kawasan hutan yang dapat dikonversi menjadi areal penggunaan lain, termasuk hutan tanaman, perkebunan terbuka dan pemukiman. Setelah Menteri Kehutanan memberikan persetujuan, maka kontrol atas izin tersebut berada di instansi-instansi lain di luar Kementerian Kehutanan.


Selain kategori fungsi, masih ada aspek lain yang persoalannya hampir sama yakni masalah kepemilikan lahan (termasuk “Hutan Kota” dan “Hutan Milik Pribadi”) dan ‘pengelolaan bersama’ seperti Hutan Kemasyarakatan (HKM), dan Hutan Desa. HKM dapat diterapkan pada lahan hutan produksi atau lahan hutan lindung DAS, atau Hutan Adat di mana hak-hak masyarakat adat masih berlaku.


Habitat orangutan yang signifikan dan populasi orangutan ditemukan di kategori hutan yang berbeda, dan resolusi konflik yang efektif atas masalah status hukum atas lahan merupakan prasyarat untuk konservasi efektif terhadap sisa populasi. Masalah khusus yang signifikan dalam kaitan ini adalah rawa Tripa (status ‘Areal Penggunaan Lain’) dan Batang Toru (status ‘Hutan Produksi’ dan ‘hutan lindung DAS’).


80


Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16  |  Page 17  |  Page 18  |  Page 19  |  Page 20  |  Page 21  |  Page 22  |  Page 23  |  Page 24  |  Page 25  |  Page 26  |  Page 27  |  Page 28  |  Page 29  |  Page 30  |  Page 31  |  Page 32  |  Page 33  |  Page 34  |  Page 35  |  Page 36  |  Page 37  |  Page 38  |  Page 39  |  Page 40  |  Page 41  |  Page 42  |  Page 43  |  Page 44  |  Page 45  |  Page 46  |  Page 47  |  Page 48  |  Page 49  |  Page 50  |  Page 51  |  Page 52  |  Page 53  |  Page 54  |  Page 55  |  Page 56  |  Page 57  |  Page 58  |  Page 59  |  Page 60  |  Page 61  |  Page 62  |  Page 63  |  Page 64  |  Page 65  |  Page 66  |  Page 67  |  Page 68  |  Page 69  |  Page 70  |  Page 71  |  Page 72  |  Page 73  |  Page 74  |  Page 75  |  Page 76  |  Page 77  |  Page 78  |  Page 79  |  Page 80  |  Page 81  |  Page 82  |  Page 83  |  Page 84