This book includes a plain text version that is designed for high accessibility. To use this version please follow this link.
Penegakan hukum telah meningkat di wilayah Indonesia selama pertengahan tahun 2000-an terutama pada periode 2005-2007 karena dipicu oleh adanya fokus perhatian yang besar pada penebangan liar (Nelleman et al. 2007), penurunan penebangan liar telah terpantau pada 37 dari 41 taman nasional yang terjadi penebangan liar, seperti juga tercermin dalam penurunan penebangan kayu secara keseluruhan yang dijelaskan dalam laporan ini. Meskipun demikian, efek utamanya masih bersifat sementara. Penebangan liar masih terjadi baik secara langsung melalui operasi perusahaan secara ilegal, terutama dalam beberapa tahun terakhir oleh pemegang konsesi yang menebang melebihi apa yang mereka boleh tebang secara sah atau menebang di luar wilayah konsesi mereka, dan melalui pemalsuan dan penggunaan kembali izin yang sudah kedaluarsa. Beberapa kasus juga terjadi dengan memberikan konsesi misalnya untuk kelapa sawit, dimana penebangan terjadi di dalam dan di sekitar areal perkebunan untuk membantu membiayai tahun pertama pembukaan perkebunan, terutama bila berdekatan dengan kawasan lindung, atau dengan memotong kayu di sepanjang “jalan” koridor sehingga menjadi lebih luas dari yang dibutuhkan untuk keperluan jalan. Ini juga merupakan pelanggaran. Salah satu contoh kasusnya telah diamati secara langsung oleh salah satu tim lapangan UNEP di tahun 2009 di bagian utara Kawasan Ekosistem Leuser, tidak jauh dari lokasi wisata Bukit Lawang yang terkenal itu. Di sini, protes oleh camat setempat terhadap penebangan liar telah membuatnya menerima foto dirinya dengan label harga di kepalanya.


Pemalsuan serupa atau penggunaan kembali izin yang


sudah kedaluarsa juga terjadi ketika melakukan penjualan, pengangkutan dan penjualan kembali saat sedang dalam proses transportasi ekspor kayu, di mana jumlah penebangan sebenarnya jauh melebihi angka resmi ekspor (Nelleman et al. 2007, 2010). Praktek korupsi dan penyuapan juga agak mudah sebagaimana sistem penegakan hukum sering terfragmentasi atau dihentikan, dan dengan kerjasama lintas batas yang terbatas atau tanpa kolaborasi, atau terbatas hanya untuk operasi-operasi penting tertentu. Jadi, efek operasi seperti itu


tidak berlangsung lama. Pada saat yang sama, Biro-biro Pusat Nasional INTERPOL dan badan-badan nasional yang bertanggung jawab di masing-masing negara jarang mengikuti pelatihan khusus atau penambahan pengetahuan atau staf ditugaskan untuk bekerja secara khusus pada masalah penebangan liar terorganisir. Selain itu, sumber daya yang bekerja secara efektif dengan petugas di daerah juga masih kurang. Badan-badan nasional memiliki keterbatasan untuk operasi di luar negara mereka, sehingga tanpa konsorsium internasional melalui INTERPOL, sindikat itu terus-menerus bebas.


Masalah besar lain adalah adanya suatu kenyataan bahwa ketika penegakan hukum ditingkatkan di satu wilayah, sindikat ini dengan mudah berpindah ke wilayah lain, merubah metode atau mengurangi operasinya, atau bahkan menghentikan seluruh kegiatan di satu daerah sampai dianggap aman untuk mulai beroperasi kembali. Ini adalah salah satu penyebab meningkatnya intrusi ke kawasan lindung, yang merupakan penyebab Sumatera kehabisan kayu bernilai tinggi, dan penyebab peningkatan penebangan liar di tempat-tempat lain termasuk sejak pertengahan tahun 2000-an di Afrika Tengah, Kalimantan dan Papua Nugini (Nelleman et al. 2010).


Ada konsensus luas bahwa pendekatan dengan beberapa skala yang luas dan terkoordinasi baik diperlukan untuk mengurangi kejahatan terorganisir di sektor penebangan. Kerangka politik, perjanjian internasional, INTERPOL dan beberapa badan- badan PBB, hingga ke polisi, lembaga penegak hukum di bidang lingkungan, polisi hutan, program pelatihan dan sekolah penjagaan hutan hingga tingkat terendah sudah ada tetapi belum terkoordinasi pada skala untuk target memerangi penebangan liar sistem lintas negara, sehingga relatif mudah bagi sindikat kejahatan memindahkan para anggota, operator, anak perusahaan atau lokasi geografis untuk ekstraksi dan transportasi, atau untuk menyuap pejabat pada berbagai tingkatan. Oleh karena itu, apabila tidak disusun penangangan masalah lintas negara ini, maka penebangan liar akan terus berkembang, dan akan mengakibatkan kerugian terhadap upaya yang terkait dengan skema pengurangan emisi.


Grafik 1b 68


Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16  |  Page 17  |  Page 18  |  Page 19  |  Page 20  |  Page 21  |  Page 22  |  Page 23  |  Page 24  |  Page 25  |  Page 26  |  Page 27  |  Page 28  |  Page 29  |  Page 30  |  Page 31  |  Page 32  |  Page 33  |  Page 34  |  Page 35  |  Page 36  |  Page 37  |  Page 38  |  Page 39  |  Page 40  |  Page 41  |  Page 42  |  Page 43  |  Page 44  |  Page 45  |  Page 46  |  Page 47  |  Page 48  |  Page 49  |  Page 50  |  Page 51  |  Page 52  |  Page 53  |  Page 54  |  Page 55  |  Page 56  |  Page 57  |  Page 58  |  Page 59  |  Page 60  |  Page 61  |  Page 62  |  Page 63  |  Page 64  |  Page 65  |  Page 66  |  Page 67  |  Page 68  |  Page 69  |  Page 70  |  Page 71  |  Page 72  |  Page 73  |  Page 74  |  Page 75  |  Page 76  |  Page 77  |  Page 78  |  Page 79  |  Page 80  |  Page 81  |  Page 82  |  Page 83  |  Page 84