This page contains a Flash digital edition of a book.
bitranetnewsletter


Edisi 12 / September - Oktober 2013 Untuk Kalangan Terbatas


Obat Herbal: Mutu Meningkat, Masyarakat Pun Sehat


Dewasa ini, hampir di setiap tempat banyak kita lihat pedagang, Daftar Isi Tajuk Utama


- BITRA Indonesia Perduli Obat Herbal


- Obat Herbal Harus Penuhi Standar Ilmiah


Advokasi


- Meningkatkan Partisipasi Politik Pemuda untuk Penguatan Demokrasi


- Perdes Partisipatif untuk Kesejahteraan Masyarakat


- Ribuan Hektar Lahan Pertanian Rusak Akibat Letusan Gunung Sinabung


Pertanian


- Penggunaan Lahan untuk Pertanian Organik Meningkat Tajam


- Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak Sapi, Limbah Sapi untuk Biogas dan Pupuk


Credit Union - Perekonomian Rakyat


Kesehatan Alternatif


- Khasiat Daun Kemangi Sangat Berlimpah


Profil - Sunggul: Bertahan dengan Pertanian Organik


Kabar Dari Kampung


- Pertanian Meningkat Karena Mendapat Pembangunan PNPM


15 12 - Mengusir Diabetes dengan Pirdot 13 14 9 10 11


6 7


8


- Tanggul Sungai Wampu Beralih Fungsi, Pihak Terkait Tidak Perduli 8


2


- Sehat dengan Pengobatan Herbal 3 - Menristek: Pasar Obat Herbal Indonesia Sangat Menjanjikan


4 5


toko, bahkan pusat perbelanjaan yang menjual beragam produk herbal. Tengok juga bermacam iklan yang ada di berbagai media massa. Mulai dari media cetak sampai elektronik, iklan-iklan obat herbal dan pengobatan alternatif itu pun muncul jor-joran. Agaknya kepercayaan masyarakat terhadap pemakaian obat-obatan alamiah kian meningkat. Memang, sejak beberapa tahun terakhir, penggunaan obat-obat herbal (tradisional) ini terus meningkat, baik di negara berkembang maupun negara maju. Di China, konsumsi obat-obat tradisional mencapai 30-50 persen dari total konsumsi obat penduduknya. Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat dan di Eropa. Nilai pembelanjaan untuk konsumsi obat- obat herbal dan berbahan alami tersebut bahkan mencapai puluhan juta dolar AS per tahunnya. Di Indonesia, prospek obat herbal ini pun dinilai cukup baik dan menjanjikan. Apalagi bangsa Indonesia telah mewariskan kebiasaan minum jamu dan ramuan tradisional (herbal) lainnya untuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Dengan 9.606 jenis tanaman obat, Indonesia tentu punya potensi yang besar untuk mengembangkan obat herbal tersebut. Kendati demikian, ada peluang pasti ada pula kendalanya. Misalnya


soal bahan baku. Saat ini sebagian simplisia (bahan alam yang telah dikeringkan berupa tanaman utuh, daun, buah, batang, akar dan ekstrak tanaman untuk bahan obat) masih diimpor dari luar negeri. Hal itu disebabkan kualitas sebagian bahan baku yang dihasilkan petani tanaman obat di Indonesia belum memenuhi standar mutu industri fitofarmaka. Kemudian, komunikasi antara pusat penelitian dan pengembangan dengan petani atau pelaku agribisnis juga kurang intensif. Sebagian besar dokter di Indonesia malah belum merekomendasikan penggunaan obat herbal, dengan alasan belum memenuhi standar akademik ilmiah (evidence based medicine). Karena itu, perkembangan obat herbal ini perlu diperkuat oleh


kebijakan pemerintah. Apalagi sejak diluncurkan Jamu Brand Indonesia pada Mei lalu, pemerintah dan DPR harus ikut mendorong dan memfasilitasi pengembangan obat herbal tersebut, seperti memfasilitasi pendidikan, penelitian, serta sosialisasi tentang manfaat obat herbal dan obat berbahan alami lainnya. Hal ini penting karena potensi obat herbal yang ada di Indonesia bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia dan dunia. Sejatinya, peningkatan mutu obat herbal ini untuk mewujudkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan, termasuk meningkatkan ekonomi masyarakatnya. (red)


1 Newsletter Bitranet / Edisi 12: September - Oktober 2013


Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16