This page contains a Flash digital edition of a book.
Edisi 6/September-Oktober 2012 Untuk KalangantUn uk Kalangan Terbatas


erbatas


Daftar Isi


Tajuk Utama - Fair Trade Memperjuangkan Petani Peroleh Harga Adil


- Anggaran Pertanian Organik Belum Cukupi Kebutuhan Gagasan “Go Organic”


- Petani Tobasa Kembangkan Padi Organik 3 - Mitos Seputar Makanan Organik


- Jagung Transgenik Sebabkan Tikus Tumor 4 - Produk Rekayasa Genetik Bukan Satu- satunya Pilihan


Advokasi - Perizinan Membelit Media Komunitas - DPR Klaim Sepakati RUU Pangan


- Pewarta Warga untuk Tingkatkan Akses & Kreasi Rakyat pada Media


- Pasca Reformasi, Konfl ik Agraria Sumut Tertinggi


Pertanian - Sudah Waktunya Indonesia Rekayasa Benih Sendiri


Credit Union - Tujuh Kesalahan Fatal Kematian Kopdit - CU


Kesehatan Alternatif - Koperasi Bitra Bahagia Kembangkan Usaha Obat Herbal


- Bakti Sosial, Menjaga Kesehatan Rakyat Miskin


- Baksos, Meningkatkan Kesehatan Rakyat Secara Mandiri


2 3 4


6


7 7


8 9


10 11


12 12 13


Profi l - Bubuk Instan Sari Kedelai untuk Kesehatan & Pemberdayaan Komunitas 14


Kabar Dari Kampung - Pengrajin Batu Bata Terancam Melarat - Mencetak Bata, Menuai Bencana - Si Murni dari Paya Pinang


15 15 15


Antara Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Pangan


Antara Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Pangan


Di tengah maraknya impor bahan pangan, muncul kekhawatiran atas kedaulatan pangan yang dianggap sulit terwujud jika tidak ada tindakan strategis dari pemerintah. Ambil contoh lonjakan harga kedelai yang sempat memicu respon negatif para perajin tahu dan tempe yang nyaris gulung tikar. Dampak selanjutnya, boleh jadi krisis pangan pun akan mengancam. Di lain pihak, soal pangan transgenik dan organik perlulah jadi perhatian mendalam dari pemerintah. Tadi dikatakan, Indonesia memiliki ketergantungan terhadap pasokan bahan pangan dari luar negeri. Memang benar pemerintah sudah mencanangkan program penguatan ketahanan pangan, tapi toh data tahun 2011 berkata lain. Angka impor pangan nasional, seperti susu mencapai 90%, gula 30%, daging sapi 30%, kedelai 70%, garam 50%, beras 2 juta ton dan gandum 5 juta ton per tahun. Ini membuktikan bahwa produksi bahan pangan dari dalam neg- eri saat ini belum mencukupi sehingga harus mengimpor. Tak cuma itu, persoalan pangan transgenik ternyata juga menjadi polemik. Baik di Eropa, Amerika, Rusia, maupun di Indonesia. Meski Komisi Keamanan Hayati merekomendasikan agar Kementerian Pertanian menerbitkan sertifi kat keamanan pangan, berbagai pihak yang peduli soal pangan menegaskan pentingnya aspek kehati-hatian dari tanaman transgenik. Sebab tidak hanya dampak lingkungan, tapi ini juga menyangkut soal ekonomi dan sosial. Bahkan penggunaan produk transgenik di areal pertanian dinilai belum memikirkan pember- dayaan dan masa depan petani. Termasuk soal keamanan pangan. Bicara keamanan pangan, tentu tak terlepas dari gagasan “Go Organic 2010” yang telah digulirkan pemerintah. Ada tren bahwa organik telah menjadi gaya hidup. Konsumen pun su- dah mulai sadar akan bahaya pangan konvensional. Berbeda dengan tanaman konvensional, tanaman organik dikembangkan oleh petani terlatih di ladang khusus, yang tumbuh tidak menggunakan bahan kimia dan menggunakan bibit hibrida. Metode pertanian berkelanjutan digunakan untuk membudidayakan tanaman ini. Demikian pula dengan daging, telur, susu, dan produk peternakan lainnya yang diproduksi secara organik. Produk ternak secara organik lebih sehat karena tidak mengandung zat-zat kimia atau racun.


Kembali soal ketahanan pangan tadi. Pangan organik cenderung memenuhi aspek nilai, yakni keamanan. Selain pangan organik identik dengan kesegaran, nutrisi tinggi dan alami, aspek kejujuran dan kepercayaan juga menjadi faktor penting dalam hal penguatan sektor pertanian organik ini. Sudah tentu ini sangat penting dalam melaksanakan kedaulatan pangan. Sayangnya, gagasan “Go Organic” inipun tidak didukung dengan anggaran pertanian organik yang memadai. Bahkan mengutip Prof. Ahmad Sulaeman dalam “Seminar dan Talkshow Per- tanian Organik dan Pasar Berkeadilan”, beberapa waktu lalu, gagasan ini justru jalan di tempat. Alih-alih bicara keamanan pangan melalui pangan organik, pemerintah malah terkesan takut program ketahanan pangannya terganggu dengan adanya wacana pangan organik ini. (red)


Newsletter Bitranet / Edisi 6: September-Oktober 2012 1


Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16