This page contains a Flash digital edition of a book.
Edisi 4/Mei-Juni 2012 Untuk KalangantUn uk Kalangan Terbatas


erbatas


EKONOMI HIJAU: JANGAN SEKADAR SLOGAN! Daftar Isi


Tajuk Utama - MenLH Minta Isu Lingkungan Hidup Dikampanyekan


- Dampak Perubahan Iklim, Tanaman Hanya Berkembang Sesaat


- Kementerian Kehutanan Koreksi Peta Indikatif Moratorium Hutan


Advokasi - Sengketa Lahan Dibiarkan


- Lingkungan Sehat: Hak Azasi Manusia


- Penanaman Lahan Kritis Dapat Kurangi Potensi Bencana


- Pejuang Terumbu Karang Nominator Penghargaan UNDP


- Ribuan Hektare Hutan Lebak Kritis


- Taman Nasional Kerinci Terganggu Pembalakan Liar


2 2


- Kita Merusak, Kita Wajib Menanam Pohon 3 - MenLH: Kebutuhan Lingkungan Bersih Termasuk HAM


4 4


5 6


7 7


8 8


- Abetnego Tarigan Direktur Walhi Yang Baru 9 - Kontras Sumut Terima 78 Laporan Penyiksaan Hingga Juni 2012


9


Pertanian - City Farming dan Hidroponik Cara Baru Bertani di Perkotaan


10


- Kermbali ke Alam Melalui Pertanian Organik 11 - Jappsa Pasarkan Produk Pertanian Selaras Alam


Credit Union - Maklumat: CU BIMA Ganti Nama Jadi CU AMARTA


Kesehatan Alternatif - Khasiat Pepaya: Buah Tropis dari Khatulistiwa


Kabar Dari Kampung - Haruskah Rakyat Tetap Bersabar


11 12 13 14


- PLN Di Air Hitam Merugikan Masyarakat 15 Newsletter Bitranet / Edisi 4: Mei-Juni 2012


1


Sejak Konferensi Tingkat Tinggi Bumi PBB (1992) di Rio de Janeiro memperkenal- kan tiga pilar pembangunan, yakni pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan, dis- kusi global mengenai masa depan planet bumi pun kian semarak. Bahkan masa depan yang diinginkan manusia seolah berpatok pada ketiga pilar tersebut. Kendati demikian, suksesnya pembangunan ketiga pilar ini tentu tak terlepas dari komitmen masyarakat internasional, termasuk masyarakat Indonesia yang mengadopsi sistem pembangunan berkelanjutan.


Di lain pihak, wacana ketiga pilar tersebut tentu tak lepas dari polemik. Hal ini da- pat kita lihat dari terabaikannya persoalan sosial dan lingkungan hidup. Ambil contoh soal konversi lahan. Ketika pertumbuhan ekonomi membutuhkan banyak sumber daya alam (baca: lahan), sayangnya hal ini kerap dilakukan tanpa melihat aspek sosial dan lingkungan. Hingga ada kesan bahwa konsep pembangunan ekonomi ini cenderung problematik. Kalau boleh menyitir James Midgley (2005), dalam hal ini telah terjadi pembangunan yang terdistorsi, yakni dimana pembangunan ekonomi tidak sejalan de- ngan pembangunan sosial. Sehingga kesejahteraan sosial masyarakatnya terabaikan. Barangkali itu pulalah yang melandasi konsep green economy (ekonomi hijau) yang kini menjadi wacana global dalam melindungi aspek sosial dan lingkungan tadi. Sebab hal ini menyangkut kesejahteraan sosial yang mestinya sejalan dengan pem- bangunan ekonomi secara keseluruhan.


Ekonomi hijau sebagai gerakan tentu bukan dimaksudkan sebagai proyek keki-


nian saja. Apalagi sebagai gerakan ekonomi semata. Tetapi diharapkan lebih mengacu kepada gerakan budaya. Untuk itu dibutuhkan strategi budaya yang dapat menjalankan ekonomi hijau ini sebagai gerakan yang dapat diterima masyarakat. Salah satu con- tohnya ialah melalui pengembangan agrowisata yang beraspek budaya. Dalam hal ini tradisi Subak di Bali dapatlah menjadi contoh yang baik.


Adapun pembangunan sosial yang mengusung tema “ekonomi hijau” tadi tentu membutuhkan peran masyarakat sebagai pelaku ekonomi sekaligus penjaga lingkung- an. Dengan kata lain, masyarakat harus memiliki kerjasama dalam menjaga lingkung- annya. Persis yang diungkapkan MenLH Prof. Dr. Balthasar Kambuaya pada “Aksi Tanam Pohon” di bantaran Sungai Percut, Desa Tambak Bayan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, beberapa waktu lalu, bahwa menjaga lingkungan ada- lah tugas kemanusiaan. Namun yang lebih penting lagi adalah, jangan sampai konsep “ekonomi hijau” ini hanya menjadi slogan kosong semata.


Pada akhirnya, manusia sebagai makhluk yang kuatir terhadap masa depannya harus senantiasa menjaga buminya demi keberlangsungan masa depan generasi ma- nusia di masa mendatang. Hal ini sebagai kepedulian yang memang harus ditanamkan secara masif, satu sikap terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. (red)


Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16