This page contains a Flash digital edition of a book.
SUARAPETANI

Kebun Campuran

Lebih Janjikan Masa Depan

”Sebelumnya saya kira kerja kayu sangat menguntungkan. Ternyata kerja kebun lebih menjanjikan masa depan,” tutur Arsyad, mantan logger di daerah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

berpindah). Biasanya para logger mendapat pinjaman uang dari cukong kayu lantas membayarnya dengan kayu gelondongan yang mereka tebang dari hutan. Setelah satu area habis ditebang, mereka pindah mencari area hutan lain yang masih banyak pohonnya. Praktik ini menyebabkan banjir, kebakaran hutan, dan kerusakan lingkungan. Akhir 2006, Arsyad bertemu

S

Yayorin. Ini adalah LSM di Kalimantan Tengah yang intensif mendampingi komunitas mantan logger dengan tujuan penyadaran agar berhenti merusak hutan dan memberdayakan mereka agar punya sumber penghidupan lain. Setelah sering ngobrol dan berinteraksi dengan staf Yayorin, akhirnya tahun 2007 Arsyad memutuskan berhenti menjadi logger dan mulai bertani.

ampai tahun 2006, Arsyad masih menimbang untuk berhenti menjadi logger (penebang kayu

Ia membeli tanah seluas 5 ha dan dibantu dua orang saudaranya, Salim dan Widodo. “Kami mulai berkebun menetap tahun 2007. Tahun pertama, kami tidak yakin bisa dapat uang dari pertanian menetap dengan pola kebun campuran,” kisah Arsyad mengenang awal perjalanannya menjadi petani. Tak dipungkiri, perlu kegigihan dan

semangat pantang menyerah untuk mengubah profesi logger menjadi petani dan menetap di satu tempat. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah konsisten mengubah perilaku, minimnya pengetahuan bertani, dan ancaman dari preman cukong kayu. Di awal kerja taninya, staf Yayorin terus mendampingi Arsyad, utamanya untuk informasi cara bertani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kebun Arsyad disebutnya

kebun campuran karena terdiri dari beragam tanaman budi daya jangka pendek, menengah, dan panjang. Di kebunnya Arsyad menanam karet, cempedak, dan sayur secara tumpang sari. “Kami menanam waluh di sela- sela tanaman karet. Ini bisa meringankan kerja dan menghemat pupuk. Saat memupuk waluh, karet pun secara tidak langsung juga dipupuk.” Arsyad dan saudaranya membuat sendiri pupuk kompos dari sisa-sisa tanaman dan

Salim dan labu hasil panen.

FOTO: YAYORIN

kotoran ternak demikian juga pestisida nabati. Salim, saudara Arsyad, dengan

bangga menunjukkan tumpukan waluh yang baru saja dipanen. “Tahun 2009 ini kami berhasil panen 25 ton waluh.”. Biasanya pedagang datang dengan truk dan membeli langsung di kebun mereka. Sementara Widodo bercerita bahwa awalnya mereka menanam sayuran untuk dimakan sendiri, sambil menunggu hasil dari cempedak dan karet. Tetapi setelah memanen sayur dan ternyata laku dijual, mereka sadar bahwa kebun campurannya menjanjikan pendapatan yang lumayan. Arsyad dan keluarganya percaya,

model kebun campuran menjanjikan keberhasilan jangka pendek dan masa depan. “Dengan kebun campuran hidup kami lebih tenang dibanding saat menjadi logger. Sekarang kami punya harapan masa depan yang lebih menjanjikan,” ujar Nurhasanah, istri Arsyad. Kebun campuran Arsyad bahkan sudah mulai banyak ditiru penduduk desa di sekitarnya.

SUWARDI

Fasilitator Pertanian, sub program Kampung Konservasi Yayorin Jl. Bhayangkara Km.1 Pangkalan Bun 74112, Kalimantan Tengah Telepon: (0532) 29057

Artikel ini ditulis ulang dari artikel “Kebun Campuran untuk Pertanian Berkelanjutan” yang dimuat di Majalah Sumpitan Edisi Juli-September 2009

Keluarga Arsyad. Kini hidup kami lebih tenang.

FOTO: YAYORIN

40 Maret 2010 Page 1  |  Page 2  |  Page 3  |  Page 4  |  Page 5  |  Page 6  |  Page 7  |  Page 8  |  Page 9  |  Page 10  |  Page 11  |  Page 12  |  Page 13  |  Page 14  |  Page 15  |  Page 16  |  Page 17  |  Page 18  |  Page 19  |  Page 20  |  Page 21  |  Page 22  |  Page 23  |  Page 24  |  Page 25  |  Page 26  |  Page 27  |  Page 28  |  Page 29  |  Page 30  |  Page 31  |  Page 32  |  Page 33  |  Page 34  |  Page 35  |  Page 36  |  Page 37  |  Page 38  |  Page 39  |  Page 40
Produced with Yudu - www.yudu.com