DARIREDAKSI
Ternak
untuk Pertanian Berkelanjutan
Majalah PETANI adalah
bentuk baru dari penggabungan Majalah SALAM dan ORGANIS. Untuk edisi perdana ini Majalah PETANI memuat sejumlah tulisan yang menggambarkan ragam pendekatan petani skala kecil dalam mengelola ternak dan pertaniannya dari seluruh Indonesia. Di bagian info dan teknologi bisa disimak cara pembuatan biogas dan kisah sukses dari Kampung Belenung, Cianjur. Ada juga cerita petani/peternak dari Peru yang mengembangkan pasar ternak dan peternakan burung puyuh di Kamerun. Rubrik Bijak di Rumah mencoba memberikan pemahaman bahwa makan daging tak selalu lebih sehat dari makan sayur. Sementara rubrik Advokasi mencoba menunjukkan pentingnya memperjuangkan pengalihan subsidi pupuk kimia untuk pengembangan pusat pupuk organik pedesaan. Semoga Anda suka dengan apa yang kami sajikan. Selamat membaca!
T
ernak adalah bagian tak terpisahkan dalam praktik pertanian organik yang berkelanjutan. Dari sisi budi daya, ternak—khususnya kerbau dan sapi— menyediakan tenaga kerja. Ternak juga menyediakan bahan penyubur tanah yang baik, lewat kotoran atau urine yang diolah menjadi pupuk kandang/ cair. Proses pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk sesungguhnya juga berperan mengurangi pemanasan global. Sebab, kotoran yang diolah menjadi pupuk dan dibenamkan ke tanah akan mengurangi gas metana dan karbon yang lepas ke udara. Memakai pupuk kotoran ternak berarti juga menambahkan bahan organik ke dalam tanah. Bahan organik ini akan menjadi makanan mikroorganisme yang hidup dalam tanah. Pada akhirnya, proses ini akan menjaga kesuburan tanah. Ternak juga bisa membantu memerbaiki asupan protein bagi keluarga petani lewat telur atau susu. Bahkan sebenarnya ada potensi lain yang belum terlalu digarap, yaitu kemampuan ternak menyediakan sumber energi alternatif. Kotoran ternak yang diolah lewat unit biogas akan menghasilkan gas yang bisa dipakai
4 Maret 2010
untuk memasak dan penerangan. Usaha ternak rakyat di Indonesia
juga erat kaitannya dengan aspek sosial budaya di masyarakat. Sejak dulu, ternak berfungsi sebagai “tabungan” bagi petani jika tiba-tiba membutuhkan uang tunai. Misalnya untuk biaya sekolah anak atau keperluan adat. Jumlah ternak yang dimiliki juga bisa menentukan status sosial seseorang. Makin banyak ternak dimiliki, status sosialnya makin tinggi.
Tantangan Integrasi
Ternak dan Pertanian
Sayangnya, banyak kendala dan tantangan—khususnya bagi petani skala kecil—untuk mengintegrasikan ternak dan pertanian. Harga ternak dan bibit ternak yang relatif mahal sulit terjangkau petani skala kecil. Bantuan pemerintah/lembaga swadaya masyarakat berupa bibit ternak atau dana bergulir untuk membeli bibit (biasanya sapi) seringkali juga tidak diberikan dengan pertimbangan matang. Selain soal daya dukung lahan, harusnya bantuan ternak juga memerhitungkan aspek budaya. Jika secara budaya petani tidak memiliki kebiasaan memelihara
ternak, maka ternak yang diberikan kecil kemungkinannya akan berkembang dengan baik. Bahkan bisa jadi, bantuan ternak itu langsung dijual atau disembelih.
Masalah penyediaan pakan seringkali juga luput dari perhitungan. Padahal dengan kepemilikan lahan pertanian yang makin sempit (khususnya petani di Jawa) dan alih fungsi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi area terbangun, agak sulit bagi petani untuk menanam sendiri pakan ternak atau mencari di hutan/tanah lapang. Jadi, bantuan yang harus diberikan pemerintah untuk mengembangkan usaha peternakan di Indonesia tidak bisa hanya memberikan bibit ternak dan selesai. Lebih dari itu, pemerintah juga harus menyediakan cara pemenuhan pakan dan menjalankan fungsi layanan seperti mantri kesehatan ternak, petugas inseminasi buatan, dan penyuluh lapangan.
Waspadai Penyakit
Tantangan lain yang dihadapi oleh
petani dalam mengembangkan usaha ternak rakyat adalah penyakit. Biasanya ini disebabkan oleh praktik pemeliharaan
Page 1 |
Page 2 |
Page 3 |
Page 4 |
Page 5 |
Page 6 |
Page 7 |
Page 8 |
Page 9 |
Page 10 |
Page 11 |
Page 12 |
Page 13 |
Page 14 |
Page 15 |
Page 16 |
Page 17 |
Page 18 |
Page 19 |
Page 20 |
Page 21 |
Page 22 |
Page 23 |
Page 24 |
Page 25 |
Page 26 |
Page 27 |
Page 28 |
Page 29 |
Page 30 |
Page 31 |
Page 32 |
Page 33 |
Page 34 |
Page 35 |
Page 36 |
Page 37 |
Page 38 |
Page 39 |
Page 40