telah sukses mengembangkan teknologi konservasi tanah dan air di kebun. Untuk pemenuhan pakan, setiap teras saya tanami tiga jenis penguat teras, seperti gamal/lamtoro, rumput raja (king grass) dan rumput gajah, serta setiap 10 meter saya tanami pohon turi. Dengan sistem tersebut saya memiliki 3.000 meter tanaman larikan dan 100 pohon turi sebagai sumber pakan potensial. Saya pun mampu menyediakan pakan bagi dua ekor sapi jantan dewasa.” Dua ekor sapi yang dipelihara Sebastianus di kebun menghasilkan 4 kg pupuk kadang per hari. Ditambah pupuk hijau dari daun gamal dan lamtoro yang dipanen di musim hujan, Sebastianus mampu memupuk kebunnya seluas 78 are (7800 m2). Dengan pemberian pupuk organik secara intensif panen jagung meningkat hingga 1.352 kg pada tahun 2009. Ini karena kebun menjadi lebih subur dan terhindar dari erosi. Padahal tahun 2007 produksinya hanya 936 kg.
Sapi Terseleksi:
Indukan Potensial
Lain lagi cerita Yustinus Nesi (48
tahun), seorang petani dan peternak anggota Kelompok Tunas Harapan Desa Fatuneno. Ia mendapatkan sapi dari pinjaman bergulir yang difasilitasi Yayasan Mitra Tani Mandiri, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah
YOSEF SUMU
Koordinator Yayasan Mitra Tani Mandiri-Timor Tengah Utara Jl. Basuki Rachmat, Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT P.O. Box 129, Kefamenanu 85601, NTT Telp: 0388- 31999, 08133931840, Faks: 0388- 31760 E-mail:
yosefsumu.ymtm@gmail.com,
ymtm-ttu@telkom.net
Maret 2010 19
Utara. “Tahun 2006 saya mendapatkan satu sapi induk yang diseleksi. Sapi itu saya pelihara di kebun. Tiap pagi saya menyiapkan pakan yang diambil dari kebun, membersihkan kandang, dan mengangkut pupuk kandang untuk disebarkan di kebun. Ini pekerjaan yang ringan bila dibandingkan dengan mengambil pakan dari hutan. Aktivitas seperti ini selalu selesai jam 06.00 Wita dan dilanjutan dengan pengelolaan usaha tani atau kegiatan lainnya,” papar Yustinus Nesi. Yustinus memelihara sapinya dengan
serius. Pakan selalu tersedia, baik siang maupun sore hari, dan diberi minum secara teratur. Karena merupakan sapi induk terseleksi, tahun 2007 tanda-tanda birahi sapi sudah nampak. Yustinus Nesi lalu mendekati tetangga yang memiliki penjantan terseleksi untuk dikawinkan dengan sapi betinanya. Proses kawin dilakukan dengan
cara sapi betina diikat sedangkan sapi jantan dilepas. Jika berhasil kawin, biasanya tidak diberi minum atau diberikan batang pisang sebagai pakan
selama tiga minggu untuk menghindari keguguran. Perawatan sapi yang sedang bunting dilakukan dengan mengurangi aktivitas ternak dan memberikan pakan yang secukupnya. Menjelang beranak, sapi induk harus dijaga secara intensif untuk menghindari serangan anjing. “Dengan teknik tersebut, sapi induk yang saya pelihara beranak setiap tahun. Keturunannya sehat, tinggi, bertulang besar, kulit mengkilap, dan tanduknya terbuka. Saat ini saya telah memelihara 3 ekor sapi,” ungkapnya dengan bersemangat. Selain memerbaiki genetika sapi, membantu petani skala kecil dengan pendapatan rendah untuk memiliki sapi sendiri merupakan upaya jitu dalam meningkatkan populasi sapi. “Tanam sapi dalam kebun” merupakan pilihan model peternakan rakyat yang dapat meningkatkan populasi, memperbaiki kualitas fisik/ genetika sapi, sekaligus menjamin keberlanjutan sistem pertanian yang ramah lingkungan karena terjaminnya ketersediaan pupuk, tanpa perlu mengeluarkan uang.
Page 1 |
Page 2 |
Page 3 |
Page 4 |
Page 5 |
Page 6 |
Page 7 |
Page 8 |
Page 9 |
Page 10 |
Page 11 |
Page 12 |
Page 13 |
Page 14 |
Page 15 |
Page 16 |
Page 17 |
Page 18 |
Page 19 |
Page 20 |
Page 21 |
Page 22 |
Page 23 |
Page 24 |
Page 25 |
Page 26 |
Page 27 |
Page 28 |
Page 29 |
Page 30 |
Page 31 |
Page 32 |
Page 33 |
Page 34 |
Page 35 |
Page 36 |
Page 37 |
Page 38 |
Page 39 |
Page 40